Rabu, 05 Oktober 2016

DISLEKSIA? Tak Mengapa.

Mboten pak mboten pak, jawaban ketika salah satu murid yang saya minta untuk membaca buku pelajaran. setelah dibujuk, dirayu dan digoda (ojo dikiro aku penggoda cak) akhirnya murid saya ini pun mau membaca. Dan akhinya saya tahu alasan dibalik susahnya siswa saya untuk menuruti permintaan guruya, ternyata bacaannya masih belum lancar alias terbata-bata. Oh ya, sewaktu kuliah dulu saya pernah bergabung dengan lembaga bimbingan belajar privat. sempat bingung ketika mendapat seorang siswa kelas empat sekolah dasar yang kesulitan membaca sekaligus menulis. Bahkan sudah mendapat rambu-rambu tidak naik kelas , tutur ibunya bercerita. Benar saja, bacaannya masih pletat pletot dan tulisannya selalu ada huruf yang kurang pada kata-kata tertentu, misalnya pisag, yag, malag, kurag, dll. Atau kalau anda pernah menonton film tentang dunia sekolah yang cukup nge-hits "Tara Zameen Par" mengisahkan seorang anak yang selalu membuat masalah di rumah maupun di sekolah. Semua hanya untuk menutupi kekurangannya karena kesulitan membaca maupun menulis. Nah, jangan sampai kita sebagai pendidik maupun anda sebagai orang tua yang mungkin memiliki murid atau anak dengan kesulitan membaca lantas melabeli mereka sebagai anak-anak yang malas belajar parahnya lagi jika sampai menyebutnya bodoh.

Anak memiliki intelegensia tinggi tapi kok sulit belajar membaca dan menulis? itulah salah satu gejala disleksia.


Mari kita bahas secara ringan, karena jika berdasarkan kajian-kajian teori pastilah sudah sangat banyak artikel yang membahas tentang disleksia ini.
Apa itu disleksia?
Disleksia adalah semacam disabilitas yang lazim dialami anak-anak. Anak-anak dengan disleksia umumnya mengalami kesulitan saat mereka belajar membaca, menulis atau mengeja kata-kata.
Meskipun anak-anak penderita disleksia memiliki tingkat intelejensi di atas rata-rata, mereka sulit memahami pelajaran yang disampaikan secara visual maupun melalui suara.
Mata penderita disleksia bisa melihat kata-kata yang tertulis dalam buku, namun otak tidak mampu menerjemahkan apa yang mereka lihat. Disleksia bukanlah bagian dari penyakit mental.

Lalu apa penyebabnya?

Ada dua jenis disleksia, yaitu disleksia primer dan disleksia berkembang. Disleksia primer terjadi akibat tidak berfungsinya cerebrum (bagian otak yang mengatur aktifitas berpikir dan bergerak) yang terjadi akibat faktor genetik dan keturunan.
Sedangkan disleksia berkembang dialami ketika anak masih berada dalam kandungan. Pengidap disleksia berkembang dapat membaca namun tidak lancar dan mengalami kesulitan dalam mengeja kata-kata. Kabar baiknya, kemampuan membaca mereka akan membaik ketika tumbuh dewasa. Baik pengidap disleksia primer maupun berkembang dapat menangkap gambar maupun suara, tapi dengan kecepatan merespon yang lebih lambat daripada anak normal.
Tanda-tandanya
Seorang anak yang kemungkinan mengidap disleksia ini akan berulang kali terbalik menuliskan angka atau huruf. Karena anak normal pun biasa melakukan kesalahan semacam ini, maka gejala ini mungkin akan dianggap sepele. Tetapi, pendidik atau orang tua baru sadar ketika anak tetap melakukan kesalahan yang sama pada saat usianya telah lebih dari delapan tahun.
Sedangkan gejala lainnya adalah :
  • Tidak mampu mengikuti urutan atau pola
  • Tak mampu mengingat apa yang pernah didengar dan dilihat ( termasuk hal-hal yang disukainya, seperti film atau cerita)
  • Mengerjakan PR dengan tidak rapi
  • Enggan mengerjakan tugas sekolah
  • Mengalami kesulitan saat menyalin dari buku atau papan tulis
Apa yang harus kita lakukan?

Jangan panik ketika Anda mendapati gejala di atas pada murid atau anak Anda. Anak pengidap disleksia biasanya akan merasa tertekan dan kesepian karena merasa minder dengan ketidakmampuannya dalam hal membaca. Jadilah motivator setianya agar ia mendapatkan kembali rasa bangga terhadap dirinya sendiri dan tak menyerah dengan keterbatasan yang dialaminya. Dampingi sekaligus bimbing secara perlahan dengan penuh kesabaran alih-alih membiarkannya sendiri. Last, setiap kekurangan pasti ada kelebihan. Biasanya anak yang mempunyai masalah disleksia, ia akan memiliki kelebihan diatas rata-rata dalam hal keseniannya. Semoga kita sebagai pendidik maupun sebagai orang tua mampu membimbing anak, guna memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap anak.
Sumber referensi dari wikipedia.
Sharing dikolom komentar ya bro, kalau punya pengalaman menangani anak yang mengalami disleksia.

0 komentar: