Mboten pak mboten pak, jawaban ketika salah satu
murid yang saya minta untuk membaca buku pelajaran. setelah dibujuk, dirayu dan
digoda (ojo dikiro aku penggoda cak)
akhirnya murid saya ini pun mau membaca. Dan akhinya saya tahu alasan dibalik
susahnya siswa saya untuk menuruti permintaan guruya, ternyata bacaannya masih
belum lancar alias terbata-bata. Oh ya, sewaktu kuliah dulu saya pernah bergabung
dengan lembaga bimbingan belajar privat. sempat bingung ketika mendapat seorang
siswa kelas empat sekolah dasar yang kesulitan membaca sekaligus menulis. Bahkan
sudah mendapat rambu-rambu tidak naik kelas , tutur ibunya bercerita. Benar
saja, bacaannya masih pletat pletot dan
tulisannya selalu ada huruf yang kurang pada kata-kata tertentu, misalnya
pisag, yag, malag, kurag, dll. Atau kalau anda pernah menonton film tentang
dunia sekolah yang cukup nge-hits "Tara Zameen Par" mengisahkan
seorang anak yang selalu membuat masalah di rumah maupun di sekolah. Semua
hanya untuk menutupi kekurangannya karena kesulitan membaca maupun menulis. Nah,
jangan sampai kita sebagai pendidik maupun anda sebagai orang tua yang mungkin
memiliki murid atau anak dengan kesulitan membaca lantas melabeli mereka
sebagai anak-anak yang malas belajar parahnya lagi jika sampai menyebutnya
bodoh.
Anak
memiliki intelegensia tinggi tapi kok sulit belajar membaca dan menulis? itulah
salah satu gejala disleksia.
Mari kita bahas secara ringan, karena
jika berdasarkan kajian-kajian teori pastilah sudah sangat banyak artikel yang
membahas tentang disleksia ini.
Apa itu disleksia?
Disleksia adalah
semacam disabilitas yang lazim dialami anak-anak. Anak-anak dengan disleksia
umumnya mengalami kesulitan saat mereka belajar membaca, menulis atau mengeja
kata-kata.
Meskipun anak-anak
penderita disleksia memiliki tingkat intelejensi di atas rata-rata, mereka
sulit memahami pelajaran yang disampaikan secara visual maupun melalui suara.
Mata penderita
disleksia bisa melihat kata-kata yang tertulis dalam buku, namun otak tidak
mampu menerjemahkan apa yang mereka lihat. Disleksia bukanlah bagian dari
penyakit mental.
Lalu
apa penyebabnya?
Ada dua jenis disleksia, yaitu disleksia primer dan disleksia berkembang. Disleksia primer
terjadi akibat tidak berfungsinya cerebrum
(bagian otak yang mengatur aktifitas berpikir dan bergerak) yang terjadi akibat
faktor genetik dan keturunan.
Sedangkan disleksia berkembang
dialami ketika anak masih berada dalam kandungan. Pengidap disleksia berkembang
dapat membaca namun tidak lancar dan mengalami kesulitan dalam mengeja
kata-kata. Kabar baiknya, kemampuan membaca mereka akan membaik ketika tumbuh
dewasa. Baik pengidap disleksia primer maupun berkembang dapat menangkap gambar
maupun suara, tapi dengan kecepatan merespon yang lebih lambat daripada anak
normal.
Tanda-tandanya
Seorang anak yang
kemungkinan mengidap disleksia ini akan berulang kali terbalik menuliskan angka
atau huruf. Karena anak normal pun biasa melakukan kesalahan semacam ini, maka
gejala ini mungkin akan dianggap sepele. Tetapi, pendidik atau orang tua baru sadar
ketika anak tetap melakukan kesalahan yang sama pada saat usianya telah lebih
dari delapan tahun.
Sedangkan gejala
lainnya adalah :
- Tidak mampu mengikuti urutan
atau pola
- Tak mampu mengingat apa yang
pernah didengar dan dilihat ( termasuk hal-hal yang disukainya, seperti
film atau cerita)
- Mengerjakan PR dengan tidak
rapi
- Enggan mengerjakan tugas
sekolah
- Mengalami kesulitan saat
menyalin dari buku atau papan tulis
Apa yang harus kita lakukan?
Jangan panik ketika
Anda mendapati gejala di atas pada murid atau anak Anda. Anak
pengidap disleksia biasanya akan merasa tertekan dan kesepian karena merasa
minder dengan ketidakmampuannya dalam hal membaca. Jadilah motivator setianya
agar ia mendapatkan kembali rasa bangga terhadap dirinya sendiri dan tak
menyerah dengan keterbatasan yang dialaminya. Dampingi sekaligus bimbing secara
perlahan dengan penuh kesabaran alih-alih membiarkannya sendiri. Last, setiap kekurangan pasti ada
kelebihan. Biasanya anak yang mempunyai masalah disleksia, ia akan memiliki
kelebihan diatas rata-rata dalam hal keseniannya. Semoga kita sebagai pendidik
maupun sebagai orang tua mampu membimbing anak, guna memaksimalkan potensi yang
dimiliki oleh setiap anak.
Sumber referensi dari wikipedia.
Sharing dikolom komentar ya bro, kalau punya pengalaman menangani anak yang mengalami disleksia.